Bunga di musim dingin
Diperaduan Ungkapan dan Terpendam Telah nyata hinggap sekuncup bunga Pada hati nan lesu Dan tertutup dinginnya salju di tanah beku Menyemaikan benih-benih padi Mendatangkan senyuman dirona wajah petani Memekarkan mahkota asoka, mawar, dan melati Terbesit pula agungnya syair duniawi Menemani setiap pandangan namun tak bernyali Untuk sepatah kata, tak terucap apa yang dinanti Hadir dengan tatapan syahdu menusuk kalbu Menawan arah langkah hati tertuju pada jejak langkahmu Bermain dilingkaran rasa, meski cuma daku yang tahu Tersisa satu windu untuk bertemu Bagaimana kelak nasib jiwaku? Mengadu atau memendam dahulu? Ditengah peraduan hati dan pikiran Sabar dan amarah Nafsu dan rasa cinta Ungkapkan atau pendam saja Rupanya bumi berkata pendam saja Langit pun mendukung menyimpan rahasia kapan kan terungkap Afifatul Ilma Photo : Nadiah Raghdah