Di antara
Aku sudah mencamkan pada diriku sendiri, tidak perlu menuang rasa pada gelas yang sudah retak, sudah bolong, maupun sudah penuh terisi. Jangankan menyentuh, bahkan mendekatinya saja tidak perlu, percuma. Kamu tidak akan bisa mengisi ruang kosong dalam gelas itu. Kamu tidak akan bisa mengubah warnanya. Aku mencamkan, untuk diriku.
Ada kalanya, saat gelas itu menatapku nanar, meminta setetes air penyejuk dahaga. Lantas aku teteskan sedikit demi sedikit mata air ke dalamnya. Nyatanya, gelasnya bolong sehingga tetes mata air itu jatuh menghilang diserap tanah.
Lalu, waktu berselang. Kembali gelas itu terlihat berantakan. Lantas aku coba merapikannya namun ternyata, sudah ada sosok lain yang datang membantu. Lalu apa gunaku?
Musim berganti, jika tidak memulai bertanya kabar, gelas ini tak ada yang mengerti kondisinya. Mau dibilang misterius, ya memang, walau misterinya sangat samar dibalik indah corak gelasnya. Kadang, aku ingin coba pahami situasinya, tapi selalu gagal. Apa selama ini aku salah melihatnya berbeda?
Semakin lama gelas ini kuusik, tampaknya semakin ia ingin menghilang saja dari orbitku. Sudah sejauh ini, ia masih jadi orbit yang ke-5 dalam peredaran. Sungguh, aku bertanya apakah posisiku hanya bagaikan nitrogen dalam material bintang yang lenyapnya tidak ada yang menyadari?
Komentar
Posting Komentar