Kasih Tak Sampai

Gulali Angan dan Cinta


Ketika senja beralas langit sore, pelangi tampak lagi. Kumpulan bocah berhamburan mencoba meraih ujung pelangi yang misteri. Orang bilang terdapat tempayan berisi gulali warna-warni yang manis. Setiap sore pelangi itu kembali tapi tak satupun jejak tertinggal waktu ia raib. Sampai suatu masa, bocah tersadar bahwa ujung pelangi yang ia kejar itu bagian  dari tubuh sinar bias yang sama saja dengan bagian lainnya. Hanya berupa sinar yang kerap hilang dan datang lagi. Rupa-rupa hati saat tertambat pada sebuah angan yang terlalu jauh untuk diraih.

Angan itu datang, membawa kenyamanan dan keinginan untuk dimiliki tapi apadaya ia terlalu jauh untuk dicapai. Pernah satu waktu ia datang menghampiri, menyapa hari. Ternyata sapaan itu adalah sebuah peringatan untuk berhenti menghayal dan menjadi pribadi yang realistis.  Suatu kenyataan yang membuat hati tertegun dan sadar untuk stop berharap tinggi pada sebuah khayalan.

Namun lagi-lagi ia datang. Perlahan-lahan kesadaran itu pudar dan sedikit demi sedikit timbul secercah harapan yang dulu pernah sirna. Seperti kata pepatah, sedikit demi sedikit lama- lama menjadi bukit, sebanyak itu pula dipertaruhkan kembali perasaan hati pada angan-angan itu. Ia sadar risiko yang akan diterimanya kelak. Patah lagi atau bersemi. Sakit atau bahagia. Kecewa atau berhasil mendapatkannya.

Salinan puisi bergaya puitis yang berirama adalah satu-satunya cara. Menuangkan segala perasaan yang tak kunjung pudar pada secarik kertas putih. Setiap angan bertanya kabar, rasanya bagai mentari hangatkan pagi, embun-embun sirna dan tanaman kembali berenergi setelah berfotosintesis. Sesederhana itu, berupa satu sampai dua kalimat menebarkan energi dan kebahagiaan yang tak bisa dibeli. Saat itu jua ide untuk diabadikan pada sebuah syair bermula.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Pesan Ksatria dari Kastil Mataram

Purnama merah berlatar candi arjuna
Bertunggang kuda bertameng baja 
Berdikari jua menjunjung tinggi kesetiaan
Membawa amanat mulia sebuah tanda kehormatan

Pesan dari Yang Mulia telah datang
Untuk rakyat kurindu  telah berjuang

Dari kapal nun jauh di samudera
Berlabuh kapten nahkoda di tepi daratan
Demi benih padi dan aroma rempah
Dan ramah-tamah penduduk negeri Mataram
Sang kapten datang bersama pintu suka cita

-- Jakarta 2017--




Analogi sebuah pesan bahagia dengan peristiwa tertujunya hati pada satu tatapan mata yang hangat. Benih-benih elegi cinta berawal disebuah pesan tersirat dari tatapan itu. Sebetulnya nafas ini masih dalam dimensi penantian, namun tiba-tiba saja kupu-kupu hinggap di bunga yang bermekaran. Wahai angan yang dinanti, kemanakah engkau kelak kan berlabuh?


Kamulah dibalik semua roman picisan puisi-puisi yang kuukir. Saat semburat senja yang fantastis mengelabui deburan ombak yang bisa saja menghantamku seketika karena lalai dari  kenyataan dunia. Sampai pula angan ini diombang-ambing angin yang lirih hingga ke titik tepat jenuh.

Yayaya, jadi inikah pengelabuhan suatu hormon sesaat, yang membuai pikiran perempuan berharap-harap cemas datang seorang yang dinantinya diatas semua imajinasi ruang dan waktu? Kamulah angan, angan yang kucinta.

Hadirnya rasa cinta bukanlah suatu noda. Semua bergantung pada pegang kendali hati. Cinta bukan untuk kau hancurkan apalagi kau musnahkan, namun cinta butuh kau arahkan. Tentu arah itu sesuai syariat Sang Pemilik Hati, maka ia akan menjadi suatu anugrah yang menjembatani perangai, akhlak, iman, dan taqwa menjadi sebuah perisai  nafsu dan khayalan-khayalan yang tak berujung.

-Selesai-





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di antara

25?

Buka Topeng