Satu Tanya untuk Keraguan



Apakah satu-satunya rasa kagum ini akan bertahan sedemikian rupa? Bila kekaguman itu mulai layu karena tak kunjung terdera hujan. Langit selalu tahu saat aku menatapmu lebih dari yang kau pernah tahu. Walau tatapanmu tak pernah tertuju pada diri yang masih berusaha memantaskan naluri dan imannya untuk sekadar menjadi teman. Untaian do'a agar terhindar dari kekakuan perkataan dan ucapan, selalu terlantun dibawah sinar mentari pagi saat akan bertemu di tempat menuntut ilmu. Namun, ku tahu pandangan itu bukan untuk diriku.

Apakah satu-satunya rasa kagum ini akan bertahan sedemikian rupa? Bila pemicu kekaguman tersebut tersendat oleh hadirnya warna yang lebih memikat dari kelamnya kelabu, sepintas hanya warna senja yang berlalu. Kombinasi abu-abu dan ungu menjadi sirna oleh kilauan cahaya fajar yang selalu ditunggu.

Apakah satu-satunya rasa kagum ini akan bertahan sedemikian rupa? Bila sebenernya kau tahu  dan berlagak pura-pura tidak tahu. Perlahan kau pudar dan hilang dari jejak yang berbekas pada perasaan ragu dan bingung.

Dilema mengagumimu dari jauh pun mau tak mau harus berakhir. Dan pilihanku, bertahan dengan keraguan atau meninggalkan dengan kepastian.

Mungkin, ini adalah awal dari tertutupnya rasa kagum itu. Pertemuan terakhir tanpa lambaian tangan ku pikir bukan benar-benar yang terakhir kalinya, tapi aku sadar, perpisahan itu nyata dan tak kan berulang.

Maaf,
dan terimakasih.


A Ilma

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di antara

25?

Buka Topeng