Logika Bekerja Pada Ku
Hidup dipenuhi dengan perasaan dan logika, memilih salah satu
reaksi untuk membalas sebuah aksi. Kemudian tersadar sebuah perlakuan.
Terkadang perempuan terlalu memihak diantara keduanya. Streotipe masyarakat,
ialah perasaan yang memenuhi tabiat wanita.
Hidup haruslah memilih, antara perasaan atau logika yang akan
disampaikan, dan keduanya adalah hal yang bertolak belakang. Sebetulnya sudah
ada sistem yang bekerja dikehidupan ini, namun terkadang perasan sangat egois
mengambil jatah logika untuk bekerja, hingga akhirnya logika membalas mengambil
peran lain yang bukan miliknya. Masalah yang membuat tubuh seketika lunglai
diterpa semilir angin, yang membuat tangis menjadi tawa, dan hitam menjadi
merah jambu. Ialah logika disebuah romansa . Hidup terlalu berperasaan
sedangkan jatuh cinta dengan logika. Dua oposisi bersaing menentukan arah
iringan sunyi di lembah keraguan.
Sebuah perasaan kaku nan tulus tertutup oleh jalan logika
mengatasinya. Semburat senyuman tertepis oleh terciptanya syair-syair semesta
dan tertuang pada sudut sedih yang terseret oleh desir waktu penduduk kota.
Hilang sedih itu. Musnah kepingan rasa yang membiru. Ku hapus semua tentang
kamu.
Sebuah Rasa Tak
Berfilosofi
Saatnya untukku bersedu sedan
Pada harap cemas dinding tua nan rapuh
Kisah klasik sekedar jadi cita
Tak terbalas selama kasih terpendam
Sebuah rasa tak berfilosofi
Menginginkan satu ikatan meneduhkan
Cuma sebatas khayal di atas imajinasi
Dan ruang diri bersama impian
Kemana lagi harus kugali
Bunga mawar yang kunanti
Kemana diri ini kan mencari
Sebuah asa baru pengingat esok hari
Bungkam dicecar tanya, yang terus menerus menanti jawaban.
Selamanya akan tetap bungkam hingga terbit sebuah jalan. Jalan menuju tempat
lain yang tak kalah sunyi dari rasa tak berfilosofi ini. Aku pun bungkam dengan
aliran takdir yang belum ada persiapan dan prediksinya. Selamat datang pada
fase gundah gulana entah kemana.
Afifatul Ilma
Kalau cinta bertepuk sebelah tangan, lepaskan tanganmu.
Terbang dan kepakkan sayapmu, seluas angkasa biru.
---- Kahlil Gibran

Komentar
Posting Komentar