Sebait Rindu
Labu, kelabu, tak kasat dipandang mata. Mudah saja cinta mengelabui logika. Merayu agar tak luput pada pikiran. Rindu. Tiada hari di bulan penghujung sekolah tanpa bayang semu kharisma itu. Berpapas tapi tak terbit kalimat dari ucapmu. Setiap hari, setiap kali bertemu. Aku menanti sebuah dialog. Masih setia menunggunya hingga hari terakhir berpapas berjumpa.
Kesempatan memang tak pernah mengkhianati keikhlasan. Akhirnya, ada kesempatan berbincang. Walau habis satu babak dalam kesempatan itu, tiada satu kalimat yang terlupa dalam memoar hati. Seolah menjadi momok bahwa itu pertanda harapan untuk rasa tulus cinta.
Logika ini tentu terbuai untuk sadar. Kesabaran dan percaya pada cinta memang berujung pedih yang menimbun perih. Mungkin hanya cuap-cuap bahagia yang sementara saja, membuat aku berharap jauh melambung pada khayalan. Memberi sebuah harapan lebih kala itu untuk membukanya, nyatanya pun tersadar, yang tercinta tak lebih sebatas bayangan, sendiri disatu pihak yang tak terbalas. Hingga waktu bertemu habis, belum sempat tersampaikan. Maksudku bukan tak sempat, tapi tak bisa.
Selamat telah meluluhkan hati ini disatu kesempatan hingga aku tak sanggup menahan rona pipi ketika berjumpa, bagaimana manisnya sebuah dialog yang sederhana, dan sedikit kepedulian untuk raga yang terbilang lemah. Terimakasih atas secuil ketulusan hati untuk berteman denganku, berteman dengan sederhana, berteman dengan apa adanya. Sampai kian di ujung tahun, aku sadar yang tertuju tak akan pernah mengerti dan berganti.

Komentar
Posting Komentar