Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Gapai Aku

Sepertinya sudah jadi tabiat Mengulang ketidak tergapaian dikali kedua Bersebab hal yang serupa tapi tentu tak sama Langkahnya perlahan berbalik Namun sulit berpaling Kisah segi empat yang saling memanah Pada titik sudut yang berbeda Titik tuju yang berbeda dan sulit untuk diraih Keempatnya hanyalah pengamat yang memendam beban sebetulnya bukan beban biasa, melainkan anugerah yang patut disyukuri selagi masih bisa dirasakan sebelum tak diberi kesempatan diakhir memperjuangkan keempatnya hanya diam selagi membenahi diri memantaskan pribadi hingga layak diberi hati sesekali, meninjau yang diniati sampai manakah risiko ia mempertaruhkan takdir namun, sebesar apapun perkara yang akan terjadi sudah ia mantapkan bahwa jodoh perkara illahi tak bisa dipungkiri apabila sudah waktunya ia kan datang menghampiri

Memilih Ketiadaan

Berdiri diantara bayang-bayang Ingin acuh tapi keadaan tak berpihak Tiap raga mencoba lepas Ada saja perkara Tuhan yang mempertemukan Kadang kala peduli sulit diraih Tapi tak lama ia bersimpati tanpa pamrih Sesekali berargumen dengan tatapan tak berkasih Atau berkeputusan sembari tertawa dalam perih Beruntungnya Hadir kaki-kaki kecil bersinergi Membersamai kerikil kian bergilir Memasok energi yang terus bergulir Membawa aku hingga berakhir Terimakasih, aku tahu amanah yang beranggotakan aku di dalamnya mungkin kesulitan menarik kontribusi kecilku. Dengan ketulusan mengajak pada kebermanfaatan, merangkul dengan penuh kehangatan, aku tahu kamu mau kita bersama selalu maju berbenah menjadi lebih baik.         - fatul

Aku Menantang Awan

Kepada bumi aku bicara, "Tolong lindungi ban motorku dari tanah-tanah yang berlubang." Kepada langit aku memohon, "Tolong jangan sambar aku dengan kilatmu yang begitu menggelegar" Aku Si Gadis Penantang Rinai Hujan bak dewi pencabut nyawa kendaraan berbalut jas penutup kepala menerjang celotehan alam Namun di tengah arus balik yang menggebu terburu-buru aku lafadzkan dzikir mohon ampun kalau-kalau kali ini jadi berkendara terakhir dalam hidupku Kerumunan manusia perlahan mangkir Satu dua motor kemasukan air Aku tetap gas kuda perangku dengan hati getir Kapan saja knalpot tak lagi kuat, aku ikut minggir Pelan-pelan dan hap aku lolos dari kawasan banjir Kini Si Dewi Pencabut Nyawa Kendaraan berubah jadi dewi kecebur sumur Byur! basah kuyup Sepotong puisi di atas ditemukan saat beberes kamar, cerita kebanjiran

Biar

Seenak lubuk hati berulah kemana Semau ibu jari berselancar berkelana Sejauh langkah kaki melayangkan rencana Semakin berumur semakin sadar Yang meronta bukan masanya onar Sebuah kejadian sudah tak mudah menggores luka Rasa yang timbul sudah bukan karena senja,hujan, atau kesenduan "Kalo gak penting mending gausah, Kalo bukan jodoh ya udah, Kalo gagal ya coba lagi" Hidup orang lain bukan saatnya untuk kita kejar, Tapi untuk dibantu jika butuh bantuan Biar hidup ini berjalan dan terjalin Biar campur tangan manusia tak terlalu merusak takdir Biar persoalan rumit selesai karena waktunya, tanpa tergesa biar kan Sesuai motto hidup, kesuksesan berawal dari ketidakpanikkan Maka biarkan yang tergores membekas menjadi bahan pendewasaan

Jika Sudah Tertawan

Berwindu-windu, aku menutup pintu Berbulan-bulan, aku menahan Membangun benteng pertahanan Berlapis ketidakpedulian Berlandas perlindungan  Agar hati tidak tertawan Setiap tatap yang tertangkap Ada sudut lain tempat paras berpaling pandang Setiap mulut yang bercakap Ada imajinasi baru tercipta selagi bertukar cerita Setiap ada perlawanan Tak lain tak bukan adalah satu penjagaan Jika jatuh tembok berlapis ini pada musuh Itu artinya aku dalam tawanan Bila hari berganti tak kunjung melepaskan diri Akan menjadi sebuah kebiasaan Menjaga perasaan yang tertawan

Mengulang Ragu

Ditiap harinya, ada dua sikap yang menyambut hadirku. Kadang riang dengan ramah, kadang diam tanpa kata. Kadang sapa dengan senyum, kadang lesu dengan sendu. Entah, mungkin kamu sendiri tidak yakin? Maka dari itu aku pun menerimanya dengan ragu. Tapi, lama kelamaan mengolah sikapmu itu di kepalaku makin membuat aku pusing. Jujur saja, aku tidak ingin menganggap sebuah interaksi antara kita bagai sesuatu yang lebih. Karenanya, bibirku hanya tersenyum tipis membalas semua sapamu, yang intensitasnya hampir setiap pagi, dan hanya terucap untukku. Bukannya naif menganggap itu hanya untukku, tapi memang kamu tidak ramah pada semua gadis. Sepertinya hanya yang sebenar-benar kamu anggap teman, dan aku? kukira tidak segitunya.  Aku mulai merasa bersalah. Kemudian, aku mencoba membalasnya lebih dari senyum tipis. Aku mulai mendengarnya lebih dalam dan mengucap selamat tinggal saat pulang, tapi setelahnya kamu tidak seantusias sapaan dahulu. Karena tak seberbinar tatapan dahulu, aku b...

2018 A Year Full of New Experience

Welcome 2019! After 365 days i've spent, 2018 was a cheerfull, sad, and excited year. Dua belas bulan waktu yang diberikan dan di 31 Desember, gua menilai 2018 cukup produktif (buat gua, yang mungkin masih jauh dari skala produktif temen-temen lain) dibanding tahun-tahun sebelumnya.  Gua mencoba menyibukkan diri di bidang yang berbeda basicnya. Ya walaupun belum aktif sepenuhnya, at least sudah menjadi bagian di dalamnya. Kadang, perlu muter otak biar seimbang, yang satu jalan, yang satu tetap terpenuhi juga. Soalnya kadang, dua diantaranya bertolak belakang untuk dijalani. Bertolak di hati, pikiran, jiwa, dan rasa. Gua gabisa melebihkan salah satunya, kalau terjadi, yang satu jadi keteteran, lalu berakibat futur, lemah, dan gelisah. Wkwk lebay ya? Emang hasilnya gak epic haha, tapi jadi bahan pelajaran plus pengalaman dong, kan 'alam terkembang jadi guru' ya gak? Manfaatin aja semaksimal yang kita bisa biar sekitar kita bisa jadi guru terbaik buat hidup kedepan. Jangan ...