Mengulang Ragu
Ditiap harinya, ada dua sikap yang menyambut hadirku. Kadang riang dengan ramah, kadang diam tanpa kata. Kadang sapa dengan senyum, kadang lesu dengan sendu. Entah, mungkin kamu sendiri tidak yakin? Maka dari itu aku pun menerimanya dengan ragu.
Tapi, lama kelamaan mengolah sikapmu itu di kepalaku makin membuat aku pusing. Jujur saja, aku tidak ingin menganggap sebuah interaksi antara kita bagai sesuatu yang lebih. Karenanya, bibirku hanya tersenyum tipis membalas semua sapamu, yang intensitasnya hampir setiap pagi, dan hanya terucap untukku. Bukannya naif menganggap itu hanya untukku, tapi memang kamu tidak ramah pada semua gadis. Sepertinya hanya yang sebenar-benar kamu anggap teman, dan aku? kukira tidak segitunya. Aku mulai merasa bersalah.
Kemudian, aku mencoba membalasnya lebih dari senyum tipis. Aku mulai mendengarnya lebih dalam dan mengucap selamat tinggal saat pulang, tapi setelahnya kamu tidak seantusias sapaan dahulu. Karena tak seberbinar tatapan dahulu, aku berhenti dari menyapamu dan kembali pada senyum tipis yang begitu malu, karena aku mulai salah tingkah dalam hadirmu.
Komentar
Posting Komentar