Purpose of Life

      Pepatah bilang, tak perlu menjelaskan tentang dirimu pada dunia, karena yang membencimu takkan percaya pada itu dan yang menyukaimu tak memerlukannya. Tapi, aku butuh tempat menyalurkan hal positif dan negatifku, emosi ini tak bisa ku simpan sendirian. Mungkin saat ini aku masih menyimpannya dalam notebook coklat ku yang setiap dua tahun sekali berganti. Namun, aku akan menemukan tempat tercurahnya warna sesungguhnya diri ini, beberapa tahun lagi.

     Selamat datang diwaktu menjelang dewasa, 20 tahun. Dimana ke-overthinking-an soal jati diri dan tujuan hidup, saatnya terpecahkan. Tidak mudah ya, ternyata. Padahal saat masih di bangku taman kanak-kanak, mudah saja mengucapkan cita-cita ku menjadi guru, yang rupanya lebih dari sekadar cita-cita dalam ucapan dan makna singkat 'ingin menjadi' tetapi lebih dalam dari itu. Kini kita memikirkan cita-cita adalah fokus kita dalam menjalani tahun demi tahun, seberapa luas manfaat untuk diri sendiri, dan tentunya efeknya di muka bumi. Tak luput bayang-bayang gagal turut menghantui dalam proses menggapainya. Sungguh, cita-cita tidak sesimpel itu.

     Itu baru cita-cita, masih ada hal dimasa dewasa lain yang perlu didalami yaitu kasih. Apa makna dari hidup apabila menjalninya tanpa rasa kasih. Belas kasih, terimakasih, dan.... kekasih? Sama halnya dengan cita-cita, kasih tak sependek sesuatu yang paling disayang atau dicinta, namun lebih dahsyat dari itu. Ia adalah kekuatan, kekalutan, dan bagian dari tujuan hidup.  Kadang melenakan dan kadang menjerat akal sehat hingga ke urat nadi. Ia menjadikan diri ini gila juga semakin waras. Tergantung bagaimana kita mengenal kasih untuk hidup yang singkat ini.

   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di antara

25?

Buka Topeng