Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Biasa Lama-Lama Tak Biasa

Duduk, rame-rame jalani kegiatan bersama. Obrolin hal yang harus dikerjain, tiap hari, tiap malem. Duduk, ngemil, bercanda-canda disela rapat serius. Duduk, sesekali bertukar pandang. Saling memperhatikan apa yang didiskusikan, masih soal tujuan bersama.  Lama-lama, obrolan rapat pindah ke chatting. Lama-lama obrolan rapat ganti jadi aktivitas kampus sehari-hari. Lama-lama saling bertukar opini soal skripsi. Lama-lama curhat soal dosbing yang bikim frustrasi. Lama-lama sibuk sendiri. Lama-lama room chatt makin sepi. Awalnya gak ada perasaan menunggu, lama-lama nungguin pesan apa nih selanjutnya. Apa kamu masih mau chatting tanpa tujuan jelas ? Apa kamu mau share apa yang kamu laluin di salah satu hari? Udah sebulan, room chatt aku dan kamu gaada obrolan terbaru. Awalnya, chatt sama kamu biasa aja, gak ada feel apa-apa. Lama-lama, kenapa tumbuh suka cita tiap liat one message from *piiiip* di notification. Bahkan, ngecek apa kamu udah liat story aku? wkwkwkwk emang pikiran-pikiran n...

Ready?

Ready to apa dulu ni? hahaha. Semakin dewasa tanggungan semakin complicated. Ini baru ngurusin hidup sendiri, belum ngurusin hidup orang lain. So, buat kamu kamu yang bilang mo nikah mo nikah semudah mengucap mo jalan-jalan ke gramed, mending think again, think carefully, think completely. Gua masi tinggal sama orang tua, kira-kira sampe lulus kuliah, dan wah, asli lah melihat kehidupan keluarga gua ini, gua jadi mikir ulang 1000x gimana kalo gua berkeluarga. Repot banget! Karena saat lulus nanti plan gua adalah bekerja, maka, mengurus urusan rumah misal nyuci, bersih-bersih, masak pasti akan keteteran gua lakukan sendiri. Masih sama ortu aja gue keteteran HAHA.    Maka dari itu gue agak skeptis sama orang orang yang baruuuu aja lulus trus langsung nikah.. wkwkkw (ini antara skeptis sama iri beda tipis).  Mungkin kalo gue, perlu latihan hidup sendiri dulu sembari bekerja sampe gua pro buat manage all the things alone (self service) baru kalo gue udh pro bgt, gue siap buat...

Being Left-able

 is me.      Gatau kenapa ya, apa ada yang salah ya ama kelakuan gua wkwkwk ? Kok kayaknya setiap gua masuk ke satu circle pertemanan, jarang ada yang beres ujungnya . Yang paling sering terjadi si, i am being left (bener ga ini ya wkwk maap). Apa orang ngerasa gua ga tulus ya temenannya? Sebetulnya gua sendiri juga ga tau men tulus tuh rasanya kayak apa huhu. Pasti awalnya kita ga ngerasa, tapi saat kita tau kita ditinggal, itu rasanya uhwaw, sakit right here in my miaw miaw men.     Thanks to you guys who still carry me into our friendship hehe. Seseneng itu ya rasanya dianggap di bumi ini. Semoga yang masih bertahan, lasts forever :). Aamiin.     Susah juga ya cari temen semakin gede. Apa yang kalian pikir tentang gua sih saat pertama kali temenan, bahkan sahabat. Kalo gua pertama ngedefinisiin seseorang itu temen adalah, kenal, chit chat lebih dari 1 minggu yaaa ga kontinyu lah, minimal gua ga ngerasa canggung tiap mo chatt atau ngobrol sih he...

Purpose of Life

      Pepatah bilang, tak perlu menjelaskan tentang dirimu pada dunia, karena yang membencimu takkan percaya pada itu dan yang menyukaimu tak memerlukannya. Tapi, aku butuh tempat menyalurkan hal positif dan negatifku, emosi ini tak bisa ku simpan sendirian. Mungkin saat ini aku masih menyimpannya dalam notebook coklat ku yang setiap dua tahun sekali berganti. Namun, aku akan menemukan tempat tercurahnya warna sesungguhnya diri ini, beberapa tahun lagi.      Selamat datang diwaktu menjelang dewasa, 20 tahun. Dimana ke- overthinking -an soal jati diri dan tujuan hidup, saatnya terpecahkan. Tidak mudah ya, ternyata. Padahal saat masih di bangku taman kanak-kanak, mudah saja mengucapkan cita-cita ku menjadi guru, yang rupanya lebih dari sekadar cita-cita dalam ucapan dan makna singkat 'ingin menjadi' tetapi lebih dalam dari itu. Kini kita memikirkan cita-cita adalah fokus kita dalam menjalani tahun demi tahun, seberapa luas manfaat untuk diri sendiri, dan t...

Akhir Pertemuan

Setelah satu periode Kontribusiku mengiringi malam-malam diskusi Nyatanya tatapan harap sungguhan bicara Seolah takut kehilangan kaki-kaki tumpuan geraknya Awalnya kucoba sekali mencelup Tak kusangka berakhir terguyur Ternyata begini rasanya hipnotis Tanpa ragu ingin beri ikhtiar terbaik Walau hanya setitik amanah Diantara beribu prioritas Sering rasanya terhiraukan Namun terhalau oleh kepercayaan Ingin menuntaskan dengan mantap Seolah berdiri tegak diatas tanggung jawab Padahal ingin membuat mata itu terkesan Semua perkara sudah berlalu Ternyata tatapmu sudah menjadi candu Debat-debat dini hari kemarin, Sungguh ingin rasanya waktu berputar 61 detik dalam 1 menit Habis sudah cuap-cuapmu padaku Walau hanya satu dua Walau cuma soal hias-hias ruang pandang dan telinga Walau hanya 'mantap' atas laporan yang kuberikan Esoknya, tiap jumpa hanya sebuah sadar akan raga Tak ada senyum apalagi sapa Terimakasih sudah membawa nadi ini kembali B...

Corona, Dunia, dan Aku

Saat ini, gue lagi berada pada fase quarantine, di rumah aja, self isolation karena ada pandemi yang udah menyebar ke seluruh dunia, virus corona. Saat ini pula, gua lagi dalam kondisi jenuh banget. Awalnya gua suka semuanya serba di rumah, kuliah, rapat, itu doang sih kegiatan gue wkwk. Tapi lama kelamaan gua dirumah makin ancur semangatnya. Entah kenapa, awalnya semangat sekarang gua jadi males ngelakuin apapun. Tarikan kasur kayaknya lebih kuat dari perlindungan motivasi semangat gua seminggu ini. Gua butuh motivasi internal sih, dari dalam diri sendiri. Mungkin ada yang harus gua capai? Banyak, dan belum terwujud sampai saat ini. Makin lama orang makin keren, gua juga harus menyusul keren nih. Tapi sembari gua mengejar pribadi yang lebih keren, gua harus tetep inget kalo gua juga manusia. Btw, gua udah lulus dari SMA lama juga ya, 3 tahun lah kira-kira. berarti tepat 3 tahun yang lalu gua lagi jadi manusia paling galau karena cinta dan cita. Haha, time flies. Manusia berubah,...

Aku dan lalu

Aku terjebak dalam ruang satu warna Gelap tak terasa adanya rasa Semakin lama semakin acuh Semakin jauh dari hati yang dahulu mudah jatuh Sesungguhnya hadirku lebih dalam dari mimik wajahku Sesungguhnya acuhku lebih singkat dari peduliku Namun keduanya sempat ditebas oleh naifmu Atas hati yang tak bisa berlogika Hingga yang lalu kini menjadi aku

Aku, si Gadis Jenjang

Aku, gadis berhati sebesar genggaman jari Mudah jatuh, patah, dan kandas oleh satu gelegar petir Tumbang tak berbekas oleh cabikan satir Sayatan luka lapis demi lapis hingga terakhir Semai benih kasih, luluh lantah oleh tajamnya mulut berduri Aku, gadis berwajah cukup, setara batas kkm ambang kelulusan Berbenah dari hilir hingga hulu Berefleksi hari demi hari bertanya sana sini dalam hati Apa iya aku pantas dimiliki? Apa iya aku pantas merasakan kasih? Apa iya aku layak menjadi teman hidup? Aku, gadis berakal wajar, sewajar caramu belajar Berpikir dari akar hingga ke titik terdasar Apa benar hidup hanyalah pikiran-pikiran nanar? Tak perlu tau apa yang membuat hatimu memar Mudahnya yang lain berjalan, sedang aku merasa sakit, samar-samar Jalani saja hidup yang senantiasa berganti ini Berganti aku, kamu, atau berganti rasaku, rasamu Bebas saja kerumunan hati kau lewati,  masa bodo bila satu dua mendekati Hidup memang penuh kejanggalan soal kesetiaan Leb...