Do'aku Tak Pernah Tak Ia Dengar
Sunyi, pada waktu larut malam, di Jakarta, aku menengadahkan kedua tanganku. Tak terkira berapa banyak pinta kusebut, aku ingin melihat apakah benar salah satunya akan terwujud?
Kemudian esoknya, hujan turun. Aku ingat kata banyak guru, hujan salah satu waktu mustajab berdo'a. Aku berdo'a lagi dan lagi. Menyebutkan hal-hal yang aku inginkan, tak peduli apakah itu permintaan terbaikku atau hanya permintaan hawa nafsuku.
Kemudian esoknya Jum'at tiba. Aku teringat salah satu temanku pernah menasihati, katanya, dipenghujung ashar dihari Jum'at, lagi dan lagi menjadi waktu mustajab berdo'a. Maka, lagi dan lagi kusebut doaku, masih dengan doa yang sama nan banyak.
Esok seninnya aku berpuasa, aku pernah dengar, waktu berbuka adalah waktu mustajab berdoa, maka kusebutkan lagi do'a-do'a pada keinginan yang aku damba-dambakan.
Yang terakhir yang kuingat, doa diantara adzan dan iqamah, katanya salah satu waktu makbul. Maka selepas membaca doa setelah adzan, ku lantunkan keinginan-keinginan ku yang masih sama. Aku masih menunggu kapan salah satu do'aku terwujud.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kemudian aku pergi
Lari dari hingar bingar
Tak tau menau apakah ini akhir dari do'a do'aku
Komentar
Posting Komentar