Pertemuan 40 Hari

Jum'at, minggu pertama bulan Agustus di tahun Supas, aku berangkat ke kantor dengan harapan sama, "semoga hari ini selesai dengan baik". Aku melangkahkan kaki, mengucap salam, lalu segera duduk di bangku hijau berlabel namaku, posisiku bekerja. Aku tidak sadar, hari itu ada sosok baru yang duduk di belakangku, empat tahun lebih muda, di satu bulan sebelum ku ulang tahun. 

Mungkin ini tahun ke-4 ku terkurung di antara Bukit Barisan di tengah permukiman Minangkabau yang lumayan pedalaman. Ia hadir, memberi sudut pandang baru, tentang dunia, juga manusia. Tentang segala sudut yang ku anggap tak mungkin, tapi dengannya menjadi mungkin. Ia, bukan bocah biasa. 

Waktu bergulir, bersamanya hari terasa singkat. Obrolan mengalir mengikuti arus yang begitu deras. Ku rasa, kita punya banyak kesamaan ketertarikan dan pandangan. Dia bercerita, bertualang di latar belakang hidupnya, aku mendengar. Namun semakin ke dalam, aku jadi tersadar, apakah ini hanya kejut rasa sesaat, karena hidupku yang sudah terlalu membosankan.

Minggu ke minggu, aku semakin tersadar, bahwa ia tak selamanya. Ada sosok lain yang akan menemaninya, lebih dari 40 hari, lebih dari tenggat waktu ku bertemu dia. Berkenalan dengannya, mengubahku menjadi lebih candu datang ke kantor lebih pagi. Di suhu 15 derajat biasanya, aku urung untuk mandi jam 6 pagi, namun di 40 hari itu justru sebaliknya. Aku kenakan wewangian, ku pilih warna baju yang cocok dengan tudungku. Aku tak sabar, ada obrolan apa lagi ya di hari itu, dan selanjutnya?

Hingga aku terlupa, ada hati yang sebelumnya aku jaga, aku frustrasi dengan lakunya, namun semua hilang dengan gurauan aneh yang menggelitik. Dia berbeda,  terbuka, membagi kisahnya dengan jujur dan sederhana, membagikan apa yang ia rasa dengan tulus. Menunjukkan sikap seorang yang bisa melindungi. 

Semakin hari aku terlena, waktunya sudah hampir selesai. Menurutku, teralalu banyak bincang yang menyengkan, maka akan ku tutup dengan sesuatu yang terkenang. Ku kait benang coklat dan putih menjadi beruang dan kupu-kupu. Katanya kamu ingin menjadi kupu-kupu agar bebas, tapi menurutku kamu beruang yang lucu, gemas, tapi berbobot. Tak lupa seutas surat berbentuk daun yang ku warnai sendiri dan kubentuk sendiri bertuliskan,

"Byurrr! karena hujan yg lumayan deras, akhirnya daun mapple ikut terjatuh dan mengalir sampai di tanganmu! Ini dia Iqbal Si Kurus Aneh yang suka bercerita hal yang seru dan menggelitik! Daun mapple tahan di udara dingin, dan semakin lama berubah menjadi kuning keemasan. Bahkan daun yang sudah tak bertengger lagi di dahannya tetap punya masa keemasan! Apalagi finalist Ejavec 2025, OSN mtk 2021, dan magangnya di BPS Kabupaten Solok. HEHE. Selamat mengalir bersama daun mapple menuju ruang dimana kamu bertumbuh! Betulan tumbuh ya bersama banyak hal-hal super keren di dunia ini. Sampai ketemu lagi ^^" 

Selesai sudah 40 hari yang, tak disangka, sangat menyenangkan. Aku sampai merelakan pertemuan pertanian di Padang, hanya untuk menyelamatkan 1 hari ku denganmu. Semoga tetap tulus sampai kapan pun.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di antara

25?

Buka Topeng