Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Bunga di musim dingin

Gambar
Diperaduan Ungkapan dan Terpendam Telah nyata hinggap sekuncup bunga Pada hati nan lesu  Dan tertutup dinginnya salju di tanah beku Menyemaikan benih-benih padi Mendatangkan senyuman dirona wajah petani  Memekarkan mahkota asoka, mawar, dan melati Terbesit pula agungnya syair duniawi Menemani setiap pandangan namun tak bernyali Untuk sepatah kata, tak terucap apa yang dinanti Hadir dengan tatapan syahdu menusuk kalbu Menawan arah langkah hati tertuju pada jejak langkahmu Bermain dilingkaran rasa, meski cuma daku yang tahu Tersisa satu windu untuk bertemu Bagaimana kelak nasib jiwaku? Mengadu atau memendam dahulu? Ditengah peraduan hati dan pikiran Sabar dan amarah Nafsu dan rasa cinta Ungkapkan atau pendam saja Rupanya bumi berkata pendam saja Langit pun mendukung menyimpan rahasia kapan kan terungkap Afifatul Ilma  Photo : Nadiah Raghdah

Tajamnya Sebuah Kata

Gambar
Awal November, saat matahari mulai turun, maka saat itulah langit melepas bebannya untuk jatuh kebumi sebagai rintik hujan. Sebuah filosofi yang terekam pada jejak kehidupan melahirkan satu karakter kuat yang tak dapat goyah. Ya. Kata. Seorang pembicara pernah menyampaikan, "Kata-kata lebih tajam dari pedang, karena kita hidup dizaman  kata-kata menjadi mukjizat." Sederhana, singkat dan tepat sasaran. 2016 ini kata kata memang sangat mempengaruhi hidup seseorang. Bahkan "kata" bisa mengubah hidup kita. Itulah mengapa ia disebut mukjizat. Perubahan itu bisa terjadi pada dua hal, lebih baik atau sebaliknya. Media dari kata adalah lisan atau tulisan. Pepatah pernah mengatakan " Mulutmu harimaumu" karena sekali kita berbicara, sulit bagi kita untuk menarik kembali apa yang telah keluar dari mulut kita, dan bila ucapan kita telah menyakiti perasaan seseorang, kita telah mempengaruhi atau melakukan perubahan pada hidup seseorang. Maka, berpikirlah sebelum...

Mencari Jarum dalam Jerami

Gambar
Sabtu, 22 Oktober 2016 21:18 Dibawah rinai hujan yang membawa keteduhan, dibalik semua tangis dan rasa sedih yang dialami 2 tahun 4 bulan. Tuhan tak pernah tidur. Akhirnya, setelah menunggu beberapa waktu, terjawab sudah semua do'a dan harapan dari kesucian yang kini sudah tak ada nilai dan harganya. Kebusukan untuk menggapai sesuatu pasti berbalas. Dipermalukan didepan 1000 manusia cerdas dan berintegritas. Belum lagi pandangan dan caci maki. Aku tahu itu menyakitkan, tapi yang berlalu tak bisa terulang dan penyesalan selalu datang terlambat. Kira kira selusin banyaknya. Maju kedepan. Aku sendiri tak tahu apa yang dirasakannya. Sedih, malu, menyesal, sakit hati atau sebaliknya? Merasa tak bersalah dan menganggap itu semua hanya angin lalu yang akan hilang dan dilupakan dimakan waktu. Kotor dan picik sekali. Mereka tak pernah memikirkan perasaan teman yang tak mau menggunakan. Belum lagi mereka juga menghasut kesucian untuk ikut menempuh kepicikan pikiran pikiran manusia ...

Harapan

Saat Langit Menerka dan Aku Tersenyum oleh : Afifatul Ilma     Pagi, sang embun tapaki pedati Salam dari semesta, bentang jingga di ufuk berjumpa Bulan yang dirindu, perlahan pudar diguyur semu Mars negriku tak luput disapa Kobarkan jiwa, penuh hikmat nestapa   Sembari menari lewat bayang sanubari Terbesit sayup bergema, bak tersambar petir Mengalir, menyetrum pikiran, terpampang duhai pemuda Satu langkah nyata karya cipta pujaan bangsa, kelak Belasan tahun jemari ditempa Sang pemuda kini mulai lelah Berseteru dengan semangat terberai rasa gundah Tanpa banyak keluh, tanpa rasa ragu Berhimpun dalam nadi dan darah, penuh sesak Namun, gaungnya berdentang sampai ke langit Mengejar sederet bintang, dalam badai mengayun Serahkan ujung pena pada pelukan angkasa Untuk memilih impian dan masa depan   Ialah cita dan harapan pada sebuah skenario hidup Ialah penat dari peluh dan tangis yang tersedu Ialah paras dari sukma pada terpaan debu dan c...

kesepian

Aku  Aku ini Lugu Hidupku sendiri namun aku ragu Hidupku sunyi dan aku tebelenggu Hidupku santai tapi aku malu Aku ini Sepi Tak ada hingar bingar dunia Tak ada riuh ramai dikota Tak ada pengingat untuk saksi sang senja Aku ini Pucat Diam peralat kata dalam bayang bayang Diam dan mendekap dalam senyap Diam bersandiwara hanya mimpi sejenak Aku ini Melankolis Hanya drama saja aku menangis Hanya cerita sahabat aku tersentuh Hanya rasa bagai teman aku jatuh Aku ini ingin kalian Aku ingin ucapan pengingat senja Aku ingin kasih Aku ingin aku ada