Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Pertemuan 40 Hari

Jum'at, minggu pertama bulan Agustus di tahun Supas, aku berangkat ke kantor dengan harapan sama, "semoga hari ini selesai dengan baik". Aku melangkahkan kaki, mengucap salam, lalu segera duduk di bangku hijau berlabel namaku, posisiku bekerja. Aku tidak sadar, hari itu ada sosok baru yang duduk di belakangku, empat tahun lebih muda, di satu bulan sebelum ku ulang tahun.  Mungkin ini tahun ke-4 ku terkurung di antara Bukit Barisan di tengah permukiman Minangkabau yang lumayan pedalaman. Ia hadir, memberi sudut pandang baru, tentang dunia, juga manusia. Tentang segala sudut yang ku anggap tak mungkin, tapi dengannya menjadi mungkin. Ia, bukan bocah biasa.  Waktu bergulir, bersamanya hari terasa singkat. Obrolan mengalir mengikuti arus yang begitu deras. Ku rasa, kita punya banyak kesamaan ketertarikan dan pandangan. Dia bercerita, bertualang di latar belakang hidupnya, aku mendengar. Namun semakin ke dalam, aku jadi tersadar, apakah ini hanya kejut rasa sesaat, karena hidu...

Melewatkan Langit

Pada musim pohon berbunga,  Di nadiku masih mengalir secuil asa yang terbawa hingga ke qalbu Yang katanya memiliki empat katup, dua untuk udara bersih, dua untuk mengeluarkan racun Lalu asa itu bergerak sampai ke pusat kendali Hingga melangitlah segala asa yang hinggap Kini sudah tiba di musim meranggas Asa itu kenapa perlahan layu Tidak dipompa oleh semangat qalbu tempat pulangnya Sekujur tubuh menjadi lesu Lalu datanglah sekelompok pasukan penghancur gundah Pasukan itu berhasil melenyapkan asa, hingga tubuh kembali bugar Yang dikalahkan sebenarnya bukanlah asa karena ternyata asa merasuk ke alam lain Dalam ketenangan malam dan kekosongan  dalam kesadaran lain yang rasanya ketika tiba ingin selalu ku pegang dan menjadi kendali lain, yang semestinya tidak dalam kendali

Buka Topeng

Bukan, bukan tentang lagu peterpan tapi tentang aku  satu waktu aku sejelas kepingan kaca bening  sejelas itu hingga aku sendiri keheranan aku bisa Bahkan kusen penopang pun tak mengenal kaca itu -------------------------------------------------------------------------------------------------------- satu waktu aku melihat kembali apakah aku perlu meneruskan doa ini doa yang sama yang aku utarakan di tiga tahun terakhir keinginan yang sudah terlintas di lima tahun terakhir namun hati ku terus memiliki harapan padaMu Alam bawah sadarku pun percaya suatu saat akan terwujud walau hingga kini, tak tau harus bagaimana ------------------------------------------------------------------------------------------------------- Aku juga sempat terpikir rasanya yang aku butuh tak serumit itu sederhana semudah, sebagai pelindung yang akan menjaga ku dari banyak fitnah maupun bahaya yang aku sendiri kadang tak sadar ------------------------------------------------------------------------------...

Seutas Benang Merah

Dari saut-sautan owa yang membangunkan aku tiap jam 6 pagi, selalu terlintas pada benakku beragam kecocokan walau tetap takdir yang membawaku kesini, ke Batang Barus. Nagari dengan sekelompok kecil penduduk di tengah Rimba Bukit Barisan dan kaki Gunung Talang. Aku ingat betul saat kelompok pengajian kuliahku berisi anak-anak dari Suku Minangkabau sampai ketika mereka saling bercerita menggunakan dialek khas Minang. Aku juga ingat senior kuliahku yang pernah mengenalkan rumah makan telur ikan mas terkenal di dekat rumahnya saat aku masih tingkat satu, yang 5 tahun kemudian aku kunjungi di Payakumbuh dalam rangka menghadiri perhelatan upacara pernikahan seniorku itu. Aku juga ingat pada lorong F rak buku di perpustakaan Badan Pusat Statistik gedung 2 lantai satu, aku menjadi orang yang menyensus buku-buku daerah dalam angka, dan daerahnya adalah Kabupaten/Kota di Sumatera Barat, dimana aku pertama kali melihat wilayah bernama Dharmasraya. Benar-benar benang merah yang secara perlahan mem...