Pertemuan 40 Hari
Jum'at, minggu pertama bulan Agustus di tahun Supas, aku berangkat ke kantor dengan harapan sama, "semoga hari ini selesai dengan baik". Aku melangkahkan kaki, mengucap salam, lalu segera duduk di bangku hijau berlabel namaku, posisiku bekerja. Aku tidak sadar, hari itu ada sosok baru yang duduk di belakangku, empat tahun lebih muda, di satu bulan sebelum ku ulang tahun. Mungkin ini tahun ke-4 ku terkurung di antara Bukit Barisan di tengah permukiman Minangkabau yang lumayan pedalaman. Ia hadir, memberi sudut pandang baru, tentang dunia, juga manusia. Tentang segala sudut yang ku anggap tak mungkin, tapi dengannya menjadi mungkin. Ia, bukan bocah biasa. Waktu bergulir, bersamanya hari terasa singkat. Obrolan mengalir mengikuti arus yang begitu deras. Ku rasa, kita punya banyak kesamaan ketertarikan dan pandangan. Dia bercerita, bertualang di latar belakang hidupnya, aku mendengar. Namun semakin ke dalam, aku jadi tersadar, apakah ini hanya kejut rasa sesaat, karena hidu...